Search Jump: Comments
Kumpulan Cerita Novel Bahasa Indonesia
Chapter Index

Chapter 1 – The Barbarian of the White Snowfield (1)

Pria itu menatap horizon dengan wajah cemberut.

Badai salju menggigit tanpa ampun, tapi dia hanya memakai rompi kulit tipis, berdiri tegak, mata terpaku ke kejauhan.

“Apa yang kamu lakukan?”

Suara dari belakang.

Wanita berambut abu-abu, pakaiannya juga tipis sekali, memiringkan kepala bingung.

Pria itu membuka mulut.

“Menikmati pemandangan.”

“Kenapa?”

“Biar pikiran tenang.”

“Kenapa harus tenang?”

“Aku capek. Bodoh. Berhenti bertanya.”

“Pikiranmu capek?”

Wanita itu terus memiringkan kepala, seolah benar-benar tidak mengerti.

“Kenapa pikiran yang capek, bukan badan? Aku nggak paham.”

“Cukup. Bodoh.”

Pria itu menghela napas panjang.

“Aku bilang aku yang jaga perimeter. Kenapa kamu ke sini? Ada apa?”

“Lima suku makan kalajengking hitam.”

Wajah pria itu langsung mengerut.

“Lagi? Aku sudah bilang jangan dimakan, bikin sakit. Belum seminggu, sudah lima orang?”

“Itu tantangan yang mulia. Aku bangga sama mereka.”

Wanita itu tertawa lebar, giginya terlihat putih di tengah salju.

“Ughh, sialan.”

Pria itu mengembuskan napas berat.

“Pulang, bersihkan mayat-mayatnya. Dan jangan dimakan lagi. Kalau kamu nekat, aku bunuh sendiri.”

“Tapi…”

Wanita itu ragu.

Pria itu mendecak kesal.

“Makan lagi, mati di tanganku.”

“Ah, mengerti. Aku nggak akan makan lagi.”

Wanita itu menggigil, lalu buru-buru pergi.

Pria itu memandangi punggungnya yang menjauh, lalu menghela napas lagi.

“Orang-orang barbar bodoh.”

Tentu saja mereka takut ancamannya—lagipula mereka akan mati kalau memakannya.

Bodoh sekali.

Dia menendang salju dengan muram.

Tubuhnya lenyap ditelan padang salju.

* * *

Salju turun tanpa henti.

Dunia putih bersih, seolah segalanya terbuat dari salju.

Beberapa kereta sedang bergerak di tengahnya.

Krek. Krek.

“Ugh. Sialan. Dingin banget.”

Pria yang mengawal kereta menarik topi bulunya lebih dalam.

Napasnya langsung membeku, jatuh ke tanah seperti butir es.

Alisnya juga membeku, kalau disentuh pasti copot.

“Lilit bulu kalian lebih kencang. Kalau tidak, mati beku.”

Pemimpin rombongan berbicara dengan suara pelan.

Orang-orang menarik kerah mantel mereka lebih rapat.

“I-iya.”

“Ugh. Dingin.”

Mereka bergerak perlahan.

Jejak roda kereta dan tapak kaki tertinggal di salju putih, lalu seketika tertutup lagi, lenyap.

Seorang pria yang memandang pemandangan itu dengan mata lelah membuka mulut.

“Kapten, walau bayarannya besar, ini gila.”

Pemimpin mengangkat kepala.

Depan, belakang, kiri, kanan.

Semua putih.

Tak ada makhluk berwarna selain mereka.

“Lewati White Snowfield? Benar-benar gila, kan?”

“Diam.”

Suara kasar terdengar.

“Kalian semua sudah setuju.”

“Memang, tapi…”

“Diam saja. Kita sudah dekat perbatasan.”

“Sial.”

Dengan umpatan kecil, mulut itu tertutup lagi.

Sebenarnya mereka tak punya banyak waktu untuk bicara.

Begitu membuka mulut, udara dingin langsung menusuk paru-paru.

Dalam diam, mereka melangkah lagi.

Di dalam kereta yang mereka kawal, seorang kakek mendecak.

“Tsk.”

Kakek berjenggot putih panjang, memakai jas mewah.

Dia bertanya dengan wajah khawatir.

“Nona, apa Anda baik-baik saja?”

“Iya.”

Gadis muda itu mengangguk.

Rambut birunya bergoyang.

Mata hitamnya bertemu mata kakek itu.

“Saya baik.”

“Apa ini sebenarnya?”

Kakek itu menghela napas panjang, seolah putus asa.

“Tidak perlu Nona sendiri yang melakukan perjalanan berat ini…”

“Tidak. Saya harus pergi.”

Gadis muda itu menggeleng.

“Itu syarat kontrak saya dengan Ayah.”

“Wahai Tuan tua, Anda tidak menghargai usaha Nona untuk menyelamatkan keluarga dan…”

“Hei. Aku mau mati beku nih.”

Keluhan memotong ratapan kakek itu.

Wajah kakek memerah.

“Makhluk-makhluk tak sopan.”

“Jangan terlalu keras pada mereka. Hanya mereka yang mau mengawal kita melewati White Snowfield.”

“Memang benar, tapi…”

“Tolong, boleh tidak kita panggil mereka masuk sekarang? Mereka kelihatan sangat kedinginan.”

Krek. Krek.

Kereta berteriak di tengah dingin.

Walau dilindungi sihir, dingin ekstrem ini tetap menusuk.

Sulit membayangkan betapa dinginnya orang-orang di luar.

Gadis muda itu bicara dengan khawatir, tapi kakek itu menolak tegas.

“Tidak. Nona tidak mengerti apa yang ada di White Snowfield ini.”

“Monster… bukan?”

Monster tinggal di White Snowfield.

Makhluk mengerikan di luar nalar bersemayam di luar sana.

“Kemungkinan bertemu mereka kecil, tapi kita harus tetap waspada. Makanya kita pakai pengawal.”

“Iya. Tapi…”

Gadis muda itu memandang keluar jendela.

Hanya putih yang terlihat.

Tak ada warna lain.

“Apakah manusia benar-benar bisa hidup di sini?”

“Itu cuma legenda. Tak mungkin manusia bertahan di lingkungan ini.”

“Tapi legenda itu cukup bisa dipercaya.”

“…Memang.”

Bahkan kakek itu tak sepenuhnya menyangkal.

Dahulu kala.

Sebuah kekaisaran pernah menguasai dunia.

Kekaisaran itu memasukkan segala sesuatu dari ujung bumi hingga ujung lautan ke dalam wilayahnya.

Kecuali White Snowfield.

White Snowfield, yang luasnya lebih dari setengah dunia, berada tepat di pusat dunia.

Tempat neraka yang tak pernah ada yang kembali hidup.

Tapi kaisar yang ingin menggenggam dunia itu sendiri, menginginkan White Snowfield.

Maka dia memimpin semua yang kuat dan prajurit, bahkan masuk sendiri ke dalamnya.

Beberapa tahun kemudian.

Sekitar waktu kekaisaran itu runtuh karena kehilangan tuannya dan dilupakan semua orang.

Kaisar kembali.

Hanya dengan tubuhnya sendiri, setelah kehilangan tak terhitung prajurit dan orang kuat.

Tampak puluhan tahun lebih tua, dia bicara seperti orang gila.

Bahwa monster tinggal di White Snowfield.

Ular putih yang menelan gunung es.

Beruang putih yang menyebabkan gempa bumi.

Tikus jelek yang mencemari lautan.

Dan dia bilang.

Bahwa yang paling berbahaya di White Snowfield bukan monster.

Melainkan manusia.

“Katanya barbar berabu-abu dengan bekas luka di dada?”

Ada barbar di sini.

“Cuma legenda, kan?”

“Tapi ucapan kaisar itu bisa dipercaya. Sebagian besar monster yang dia lihat sudah ditemukan.”

Setelah kaisar mati, segala macam orang kuat dan ekspedisi masuk ke White Snowfield.

Sebagian besar tak pernah kembali, tapi segelintir yang selamat menceritakan petualangan mereka.

Petualangan mereka ada yang cocok dengan cerita kaisar.

“Tapi tak ada cerita yang melihat barbar, kan?”

“…Memang.”

Bahkan dalam petualangan yang tak terhitung itu, tak ada informasi tentang barbar.

“Mungkin kaisar salah lihat. Bukan sesuatu yang perlu kita khawatirkan.”

Gadis muda itu menutup mulut mendengar penolakan kakek itu.

Seperti kata kakek, memang bukan hal yang perlu mereka khawatirkan.

Tepat saat itu, ada ketukan di pintu.

“Kami mendekati perbatasan.”

“Iya.”

Ketegangan muncul di wajah kakek dan gadis muda itu.

White Snowfield tidak semuanya berbahaya.

Berkat pengorbanan tak terhitung penjelajah, area kemunculan monster sudah agak diketahui.

Begitu memasuki sana, ada kemungkinan bertemu monster.

Wajah para mercenary mengeras.

Walau tadi sudah diam, langkah kaki mereka kini hampir tak terdengar.

“Tidak semua yang masuk perbatasan bertemu monster.”

Pemimpin mercenary bicara pelan untuk meredakan ketegangan.

“Kalau bergerak hati-hati, bisa lewat tanpa bertemu. Dan kalau bertemu pun, sebagian besar bisa kita kalahkan.”

“Kalau monster yang tak bisa dikalahkan? Kita mati semua?”

“Aku tak menyangkal… tapi peluang menang besar. Bergerak pelan.”

Krek. Krek.

Suara roda berputar terdengar pelan.

Mereka menelan ludah, bergerak perlahan, otot seluruh tubuh menegang.

Mereka berdoa agar tak ada warna lain selain mereka muncul di dunia putih ini.

Tapi kenyataan dengan kejam menginjak doa mereka.

“…Semua berhenti.”

Pemimpin yang berjalan di depan berhenti.

“Ada sesuatu.”

“…Apa itu?”

“Sulit dilihat.”

Badai salju terlalu ganas.

Hanya bayangan samar, bahkan tak bisa dibedakan makhluk apa.

Pemimpin memicingkan mata.

“Ada kabar baik dan kabar buruk.”

“Sial. Cepat bilang.”

“Kabar baiknya, ukurannya kecil.”

Ada monster di sini yang besarnya sebesar gunung.

Kalau seukuran manusia, mungkin bisa dikalahkan.

“Kabar buruknya, dia mendekat ke arah kita.”

Tak ada jalan kabur dari pertarungan.

Umpatan dan denting logam terdengar.

Satu per satu, mereka bersiap bertempur.

Di dalam kereta, kakek dan gadis muda itu menggenggam tangan erat-erat.

Di suasana tegang itu, lawan perlahan mendekat.

Dan akhirnya, bentuknya terlihat di tengah badai salju.

Pemimpin yang hendak menerjang dengan pedang terhunus berhenti di tempat.

“Eh?”

“Hah?”

Mata gadis muda yang tadi menatap keluar jendela dengan cemas, melebar.

Makhluk yang muncul bukan monster.

“…Manusia?”

Rambut abu-abu seperti dimakan debu, bergoyang di tengah putih.

Otot sempurna bak patung.

Dan bekas luka menganga di dada yang sangat mencolok.

Rompi kulit tipis yang seolah tak peduli dingin.

“…Barbar?”

Seseorang bergumam.

Barbar yang tadi diam memandang mereka, membuka mulut.

“Aku sedang males pulang, jalan-jalan saja, tak disangka malah beruntung ketemu kalian.”

Sejenak mereka meragukan telinga sendiri.

Dari mulut sosok yang adalah lambang kekasaran itu, mengalir bahasa umum yang sangat lancar.

Mata abu-abu bertemu mata mereka.

“Senang bertemu kalian.”

0 Comments

Heads up! Your comment will be invisible to other guests and subscribers (except for replies), including you after a grace period.
Note